Efek Nonton Film Cinta Pertama
21:19
Hari ini baru sempet nonton lagi film Cinta
Pertama. Entah mengapa dari adegan pertama sampai ending semuanya bikin nggak bisa enggak sedih. Film itu banyak mengajarkan banyak hal. Yang
paling mendalam adalah tentang kesetiaan dan kepercayaan. Banyak orang yang
tidak percaya bahwa ada manusia yang tidak bisa melupakan seseorang yang pernah
berarti dalam hidupnya bahkan sampai ia menemukan orang lain yang menyayanginya
lebih dari orang yang berarti itu. Ada banyak alasan mengapa hal tersebut
terjadi. Alasan yang paling tepat menurut gue adalah karena kepercayaan akan
sesuatu pertemuan yang tertunda. Dalam film tersebut tokoh utama yang bernama
Alia, percaya bahwa ia akan bertemu lagi dengan seseorang yang sangat berarti
dalam hidupnya saat SMA. Bahkan kepercayaan tersebut masih ia pegang teguh saat
dia sedang bertunangan dengan orang lain.
“Aku
merasa ada yang hilang tanpa tahu apa yang aku sudah aku temukan. Aku merasa
menemukan tanpa tahu apa yang aku cari. Dan aku seperti masih mencari tanpa
tahu apa yang sudah hilang.”
Perasaan memang tak terdeteksi kapan ia
hilang atau kapan ia dapat ditemukan. Waktu memang bisa menguburkan perasaan.
Ketika ada suatu perasaan yang kuat di masa lalu, waktu tak akan pernah sanggup
menghilangkannya, hanya mampu untuk mengurangi intensitasnya. Setiap hari kita dipermainkan perasaan. Kita
tak pernah tahu kapan perasaan bisa hilang dan kapan ia bisa muncul. Yang
penting untuk diingat adalah perasaan yang kuat tumbuh karena kepercayaan dan
kesetiaan yang kuat. Jika kita percaya dan setia menunggunya perasaan itu akan
datang pada kita dalam bentuk yang selalu kita nantikan.
“Pertemuan
tak ada yang abadi. Seperti hal-nya pertemuan, perpisahan tak ada yang abadi.”
Adegan yang paling menyedihkan menurut gue adalah dimana orang yang di nanti bertahun-tahun oleh Alia mengatakan bahwa
kepada Alia yang sedang koma bahwa dia mencintai Alia dan kemudian dia pamit
pulang. Mengapa paling menyedihkan? Karena setelah menunggu beberapa tahun,
hanya dengan kepercayaan dan kesetiaan, orang yang berarti bagi hidup Alia
kembali sesuai dengan harapannya walaupun dengan kondisi yang berbeda.
“Mungkin
Tuhan tak izinkan sekarang, kau dan aku bahagia”
Pertemuan dan perpisahan memang tak ada yang
tahu kapan pasti datangnya bahkan walaupun direncanakan pasti. Manusia punya
rencana, Tuhan yang menentukan karena tuhan lebih tahu yang mana yang lebih
baik. Begitu pula kebahagian. Kita harus selalu siap kapan pun kita akan
bahagia dan kapan waktu kita akan tidak bahagia.
“Bagaimana
pun bentuk pertemuan itu akan menjadi indah nantinya”
Setiap pertemuan pasti akan menyenangkan dan perpisahan
apapun alasannya adalah hal yang menyedihkan.
Kita tidak bisa terus-terusan mengharapkan suatu pertemuan karena
sejatinya hidup itu seimbang. Ada pertemuan berarti ada perpisahan. Hal itu
lebih membuat diri kita bahagia. Dan kenapa gue mengangkat cerita ini menjadi salah satu
topik ocehan malam ini? Karena gue dan kita juga sedang mengalami masa penantian
panjang akan sebuah pertemuan yang tertunda. Perpisahan tak akan yang abadi,
bukan?

0 comments