Gara-Gara Ujian , Pelajaran pun Terlantar

22:29

“Aduh, besok TO kimia! Mana nanti sore masih ada TO matematika di tempat les. Tugas fisika sama makalah biologi belum lagi.” Perkataan-perkataan seperti itulah yang sering saya temukan di kelas saya, sebuah kelas XII IPA di salah satu sekolah menengah atas di Jakarta. Wajar saja sebenarnya, sebab ujian nasional sudah di depan mata. Para siswa sibuk memperdalam materi tentang mata pelajaran yang akan diujikan. Tentu saja mata pelajaran eksak untuk anak IPA. Bahkan guru mata pelajaran yang bersangkutan dan pihak sekolah pun ikutan sibuk menyiapkan strategi-stategi khusus untuk membantu siswanya dalam menghadapi uijan. Mulai dari pendalaman materi , pengadaan try out, sampai memperbanyak jumlah jam pelajaran eksak. Lalu, bagaimana dengan nasib pelajaran non-eksak?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah sejenak kita tengok sebuah kasus yang pernah terjadi di kelas saya. Suatu hari saat pelajaran sejarah dimulai, sebagian siswa kelas malah membuka buku kimia bukannya sejarah. Saat guru mulai menjelaskan tentang latar belakang orde baru, para siswa malah sedang sibuk menghitung titik didih suatu larutan. Saat ditanya oleh sang guru mengapa mereka malah belajar kimia di pelajaran sejarah, mereka menjawab bahwa nanti siang mereka akan TO kimia.

Jelas sekali di kasus tersebut bagaimana nasib pelajaran non-eksak saat ujian nasional mulai menjelang. Siswa kelas XII IPA seolah-olah menganaktirikan pelajaran non-eksak. Mereka menganggap pelajaran tersebut tak penting kerena yang penting saat ini menurut mereka adalah pelajaran yang akan di UN-kan saja. Mereka bahkan jarang membawa buku pelajaran non-eksak, entah lupa atau memang sengaja tak dibawa. Tugas-tugas pun selalu ditangguhkan hingga guru mata pelajaran yang terkait harus menagihnya setiap kali pertemuan.

Guru mata pelajan non-eksak pun sudah banyak yang menyampaikan kekesalannya kepada wali kelas karena pelajaran mereka tak diacuhkan. Wali kelas pun sudah beberapa kali menasihati mereka. Namun seperti banyak nasihat hanya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Mereka tetap melakukan hal tersebut. Hal apakah yang sebenarnya menyebabkan para siswa melakukan hal tersebut?

Menurut survey yang saya lakukan terhadap teman-teman saya, ada tiga faktor utama yang menyebabkan mereka melakukan hal tersebut. Yang pertama, sebernya mereka tak sengaja mau melakukan hal tersebut. Mereka bilang bahwa mereka belum paham benar tentang materi pelajaran eksak yang akan diujikan dan karena waktu mepet , mereka harus segera mengatasi masalah tersebut sebelum ujian tiba agar mereka tidak gagal dan tidak remedial (ujian ulangan). Yang kedua, mereka memang tak suka pelajaran non-eksak yang diajarkan. Mereka mengatakan bahwa daripada bosan dan nggak ada kerjaan jadi ya mending belajar yang lain saja. Yang ketiga merupakan faktor eksternal. Faktor ini merupakan factor yang disebabkan oleh guru mata pelajaran non-eksak. Sering kali saat menerangkan pelajaran, guru mata pelajran non-eksak menggunakan cara mengajar yang bisa dikatakan membosankan. Mereka hanya menjelaskan secara lisan tanpa alat bantuan seperti slide presentasi misalnya. Siswa kelas XII IPA yang mayoritas tidak suka hapalan semakin malas mendengarkan pelajaran.

Akan tetapi, terlepas dari semua hal di atas sebagai siswa tak seharusnya mereka melakukan hal tersebut. Semua pelajaran eksak maupun non-eksak adalah penting adanya. Kalau tidak segera diatasi masalah tersebut bisa menimbulkan masalah yang akan menganggu jalan mereka suatu saat nanti. Seperti kasus yang pernah diceritakan seorang guru kepada saya.

Seorang siswa kelas XII IPA terganjal kelulusannya karena salah satu nilai mata pelajaran non-eksaknya dibawah nilai SKBM. Saat semester ganjil karena tak suka dengan mata pelajaran tersebut ia tak mengacuhkan pelajaran tersebut. Apalagi setelah semester genap, saat ujian nasional sudah di depan mata, ia tambah menjauhi pelajaran itu. Jarang memperhatikan guru mengajar, tugas-tugas diselesaikan ala kadarnya, dan ulangan dikerjakan dengan pedoman yang penting nggak remedial . Saat pengumuman hasil ujian nasional dan ujian sekolah, ia kaget karena nilai pelajaran yang selama ini dinilainya tak penting, jatuh sejatuh-jatuhnya. Dan akibatnya, ia harus mengikuti ujian ulang untuk mata pelajaran tersebut.

Sebenarnya solusi dari permasalahan di atas hanya akan didapat dari kesadaran diri masing-masing. Sulit mengubah kebiasaan kalau diri sendiri tidak ingin berubah. Saya hanya dapat menyarankan saran berpegang teguhlah kepada prinsip bahwa tak ada mata pelajaran baik mata pelajaran eksak maupun non-eksak yang tak berguna. Walaupun saat ujian nasional dan ujian perguruan tinggi pelajaran non-eksak tidak dibutuhkan (kecuali Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia) untuk anak XII IPA, tetapi suatu saat entah kapan semua pelajaran pasti memiliki kegunaan masing-masing.

NB. Ini sebenernya tugas Bahasa Indonesia gue :)

You Might Also Like

0 comments