Obrolan Agak Berat :)
20:10Hihi gue ketagihan nge-posting nih. Gue disini pengen cerita tentang masalah nasionalis. Emang rada klise dan bosenin bgt tapi semoga postingan yg kali ini berguna. Hehe. Oke jujur gue nulis postingan yg ini gara-gara terinspirasi sama postingannya Ryan Triantoro dan ceramahan dari wali kelas gue bu Taruli Naibaho tadi pagi. Di postingannya Ryan Triantoro dia nulis tentang betapa banyaknya pelajar yang gag suka pelajaran sejarah. Padahal di dalam pelajaran sejarah kita bisa tau sejarah perjuangan banga, peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi di negara ini, serta tempat-tempat bersejarah yang menjadi saksi bisu atas peristiiwa penting yang terjadi dulu. Dan bu Taruli juga baru tadi pagi ngingetin kita kalo sebagai anak IPA kita nggak boleh hnya tertuju kepada pelajaran-pelajaran eksak yang memang merupakan pelajaran wajib, tetapi kita harus paling tidak menghargai pelajaran lain non eksak misalnya sejarah. Guru mata pelajaran sejarah mengadu pada dirinya ( Ibu Taruli-red) bahwa setiap kali mau ada ulangan mata pelajaran eksak pasti pelajaran sejarah diabaikan. Mereka lebih cenderung belajar saat pelajaran saya, cerita bu Taruli akan percakapnnya dengan guru Sejarah. Kemudian Bu Taruli menasehati kita semua semua murid kelas XII IPA 2 bahwa seharusnya kita menghargai setiap ilmu yang ada walaupun ilmu tersebut tidak terlalu berguna bagi prospek jurusan di perkuliahan kita nanti. Akan tetapi, semua ilmu yang kita pelajari tidak ada yang tidak akan berguna walaupun cuma sebutir pasir tak terkecuali sejarah. Kalian harusnya menghargai dong pelajarannya walaupun kalian tak suka, pelajaran sejarah hanya dua minggu sekali, dua minggu sekali kalian dapat mengenali diri kalian sebagai bangsa melalui cerita-cerita sejarah yang diajarkan dalam pelajaran sejarah.
Dari cerita di atas saya ingin memberikan tanggapan. sebagai siswa SMA tahun akhir ( kelas XII ) kita harusnya sudah mampu mengukur dan menanyakan kepada diri kita sendiri seberapa besar jiwa nasionalis yang ada dalam pada diri kita saat ini. Jujur saya merasa diri saya belum berjiwa nasionalis sejati. Bahkan teman saya bilang saya tidak cinta Indonesia karena saya lebih suka dengan negara Van Oranje yang sering disebut negara Belanda. Saya dianggap tidak memiliki jiwa nasionalis karena kok kamu orang Indonesia lebih suka sama negara Belanda, mana kamu ingin melanjutkan kuliah dan menetap disana lagi, kayak gue dong cinta sama negara sendiri, kuliah disini aja juga udah bagus kok. Emang apa bedanya sih kuliah di Belanda sama kuliah di Indonesia. Toh lulusannya juga bersaing di pasar kerja kok, tambah teman saya lagi. Kemudian saya lantas berpikir apa salahnya saya kuliah di Belanda dan menetap disana , toh saya masih WNI ( Warga Republik Indonesia-red), jiwa nasionalis saya masih tertanam kuat di diri saya, bahkan jiwa nasionalis saya bisa bertambah kuat di negeri orang. Memang apa jaminnanya orang tetap di Indonesia biasa menambah jiwa nasionalis mereka? Toh banyak kita lihat banyak orang di dalam negeri yang malah terjerat berbagai masalah politik ( pejabat pemerintahan khususnya) seperti KKN( Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme-red).
Ada yang bilang lagi kalau habis sekolah di luar negeri dan menetap lama di sana bagaimana mau mengembangkan pembangunan di negara asalnya bila kalian tidak ikut serta aktif dalam kegiatannya tersebut? Inilah problema yang dialami sebagian besar mahasiswa beasiswa Indonesia yang sekolah di luar negeri. Mereka bingung memilih pulang ke Indonesia karena beban terima kasik kepada institusi yang membiayai mereka sekolah ataukah mereka tetap disana mengembangkan pemikiran mereka yang seperti kita tahu sangat susah bila dikembangkan di negara berkembang seperti Indonesia? Kalau mereka memilih tidak pulang ke Indonesia mereka dicap sebagai orang yang murtad dari Indonesia (padahal mereka masih resmi menjadi WNI) dan pastilah orang-orang seperti ini dianggap tidak sama sekali memiliki jiwa nasionalis. Padahal kalau kita telisik lebih lanjut, banyak kok contoh orang yang bisa mengembangkan pembangunan nilai dan budaya negeri mereka lewat dunia internasional. Sebagai contoh misalnya para mahasiswa kesenian tari di salah satu universitas di Belanda yang menetap di sana dan kemudian menjadi seorang dosen tari tradisional Indonesia di universitas tersebut, mereka tetap mengembangkan nilai budaya Indonesia lewat tarian Indonesia dan saya yakin jiwa nasionalis dan kecintaan serta kebanggaan akan negeri mereka sendiri mereka lebih kuat di sana daripada mereka pulang ke Indonesia dan mengajar tari di Indonesia.
Banyak kita lihat kan banyak lulusan seni dari universitas terkemuka di luar negeri yang jadi pengangguran saat mereka pulang ke Indonesia.
Dan bicara soal sejarah ternyata bangsa lain terbukti lebih mencintai sejarah bangsa kita daripada kita sendiri cucu cicit para pelaku sejarah tersebut. Contohnya di Belanda ada sebuah museum di Den Haag yang memiliki koleksi buku tentang sejarah bangsa kita lebih lengkap daripada koleksi buku yang kiata miliki di pepustakaan nasional di Indonesia.
Jadi, pemikiran bahwa nasionalis hanya bisa tumbuh bila kita tetap di negara asal kita itu adalah pemikiran sempit yang harus kita renungi lebih lanjut.

1 comments